Festival Literasi Rumah Baca Al-Munawarah: Hidupkan Semangat Membaca dan Berkarya Lewat Empat Rangkaian Kegiatan

3 kali dilihat

Sungai Penuh — Sepanjang bulan September lalu, Rumah Baca Al Munawarah sukses menggelar Festival Literasi 2025 dengan tema “Rangkai Kata, Rawat Budaya”. Festival yang berlangsung selama satu bulan penuh ini menjadi wadah bagi pegiat literasi, pendidik, dan anak-anak untuk belajar, berkarya, sekaligus merayakan semangat membaca melalui empat rangkaian kegiatan utama.

Festival Literasi ini merupakan implementasi program apresiasi komunitas literasi dari Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Program Apresiasi Komunitas Literasi 2025. Dukungan ini menjadi bukti pengakuan terhadap konsistensi dan dedikasi Rumah Baca Al Munawarah dalam mengembangkan ekosistem literasi berbasis masyarakat.

Kegiatan pertama dibuka dengan Lokakarya Penguatan Komunitas Literasi, yang menghadirkan para penggerak dan relawan literasi dari Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Dalam lokakarya ini, peserta berbagi pengalaman dan strategi mengembangkan komunitas literasi agar tetap aktif dan berdaya di tengah masyarakat. Diskusi-diskusi hangat yang terjadi menjadi momentum memperkuat jejaring antarpegiat literasi daerah.

Memasuki pekan kedua, festival dilanjutkan dengan Bimbingan Teknis Penulisan Cerita Dwibahasa untuk Anak. Para peserta yang sebagian besar merupakan guru, mahasiswa, dan anggota komunitas mendapat pelatihan menulis cerita anak dengan pendekatan dwibahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah Kerinci). Melalui kegiatan ini, peserta diajak menulis cerita yang tidak hanya menghibur dan mendidik, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai budaya lokal Kerinci dalam bentuk narasi sederhana yang bisa dipahami anak-anak.

Sementara itu, Lomba Membaca Cerita Dwibahasa untuk Anak menjadi kegiatan yang paling meriah. Anak-anak tampil penuh percaya diri membacakan cerita dengan dua bahasa di depan dewan juri dan penonton, bahan bacaan mereka merupakan hasil dari bimtek. Tak hanya menunjukkan kemampuan berbahasa, lomba ini juga melatih keberanian, ekspresi, serta kecintaan anak terhadap buku dan bahasa.

Sebagai penutup, Festival Literasi Rumah Baca Al Munawarah menghadirkan kegiatan Audiobook Alih Wahana Cerita Dwibahasa, di mana karya-karya peserta bimtek diadaptasi menjadi bentuk audio. Proses ini memberi pengalaman baru bagi peserta sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap literasi, terutama bagi mereka yang lebih mudah menikmati cerita lewat suara.

Melalui keempat kegiatan ini, Rumah Baca Al Munawarah berupaya meneguhkan komitmen dalam menghidupkan budaya literasi di tengah masyarakat. Tidak hanya fokus pada membaca dan menulis, festival ini juga mengajak masyarakat untuk melihat literasi sebagai bagian dari upaya menjaga budaya dan memperkuat identitas daerah.
“Festival ini bukan sekadar acara tahunan, tapi ruang belajar bersama. Kami ingin literasi tumbuh dari hal-hal yang dekat dengan masyarakat, dari budaya, bahasa, hingga cerita yang kita punya sendiri,” ungkap salah satu penggerak Rumah Baca Al Munawarah.

Dengan semangat kolaborasi dan kreativitas, Festival Literasi Rumah Baca Al Munawarah diharapkan menjadi inspirasi bagi komunitas lain untuk terus menyalakan cahaya literasi di berbagai daerah.

Bagikan